Iklan xl yang mengganggu konsumen

Apakah anda merasa terganggu saat ingin mengunjungi suatu laman daring (online), tapi terlebih dulu disuguhkan "pop-up" berisi iklan? Kalau anda merasa terganggu, Indonesian E-Commerce Association (idEA) dan Indonesian Digital Association (IDA) mengajak anda untuk mengikuti petisi untuk menghapus praktik yang disebut sebagai intrusive advertising (iklan yang menganggu) tersebut di:  IdEA adalah organisasi yang menaungi 39 laman atau laman e-commerce.

Sementara IDA adalah organisasi yang memayungi 21 laman berita nasional semisal Tribunnews.com dan Kompas.com. "Setelah mengupayakan jalur mediasi selama lebih dari 1 tahun, idEA dan IDA menyatakan secara resmi penolakan terhadap praktik intrusive advertising," tutur Ketua IDA Edi Taslim, Minggu (30/11/2014). Ia mengatakan, berbagai iklan yang terkadang menampilkan gambar pornografi tersebut ternyata dipasang oleh pihak yang bekerjasama dengan operator seluler di Indonesia, yakni Telkomsel dan XL Axiata.

Menurut Edi, iklan seperti itu tidak etis karena mengambil ruang (space) suatu laman daring yang sebenarnya tak bekerjasama dengan pihak pengiklan tersebut. Selain itu, kata dia, pengguna internet juga dirugikan lantaran harus mengorbankan sejumlah bandwitch (kuota internet) karena kemunculkan iklan yang sebenarnya tak ingin diakses oleh mereka. "Petisi menolak intrusive/interstitial ads oleh Telkomsel dan XL ini sudah ditandatangani 18.000 orang lebih," tandasnya.

Penayangan iklan ini dilakukan tanpa izin dan kerjasama dengan pemilik situs. Padahal, pengguna mempersepsikan pemilik situs atau media online sebagai pihak yang menayangkan dan bertanggung jawab atas semua iklan yang tayang di situs tersebut. Akibatnya, banyak keluhan dari pengguna ditujukan kepada pemilik situs karena pandangan tersebut.  Isi iklan juga dapat menimbulkan iklim persaingan yang tidak baik di mana iklan dari sebuah perusahaan dapat ditayangkan di situs milik kompetitor langsungnya.

Praktik iklan ini mengganggu kenyamanan dalam mengakses informasi. Selama ini belum ada komunikasi dan prosedur yang transparan dalam memberikan opsi bagi pengguna untuk menolak atau menerima penayangan iklan tersebut. Selain itu, beberapa kali didapati isi iklan yang kurang pantas dan tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat.

Praktik ini telah dan akan mengganggu kemajuan industri periklanan dan digital pada umumnya. Para pemain bisnis baru yang mempunyai ide-ide kreatif akan disulitkan karena potensi sumber pendapatan mereka melalui iklan dibajak oleh pihak yang tidak berhak. Dalam jangka panjang, hal ini akan menjadi menurunkan motivasi para pemain baru untuk masuk ke industri.

UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE - Pasal 32 Ayat 1 yang berbunyi: “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun mengubah,menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Orang lain atau milik publik.”

UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen – Pasal 20 yang berbunyi “Pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.”

Bagian 4.5.1. Iklan pada media internet: "Tidak boleh ditampilkan sedemikian rupa sehingga mengganggu kebisaan atau keleluasaan khalayak untuk merambah (to browse) dan berinteraksi dengan situs terkait, kecuali telah diberi peringatan sebelumnya."

Dari berbagai sumber :
http : // www change . org